Skip to content

Sebuah Pemutar Musik

“Band apa ini?”, aku mengernyitkan dahi saat memperhatikan sebuah Fan Page band indie di Facebook.

“Soundrise band? Beraliran japanese pop ya? Hmm.. Masuk seleraku nih..”, batinku.

Kuperhatikan dengan seksama. “Oh, band dari Pekalongan. Masih sekota dong..”

Aku mencari-cari link download lagu dari band itu. Tapi gak ku temukan di fan page itu. Hampir keseluruhannya hanya update status dari sang admin dan upload foto personil. “Band baru nih tampaknya, begitu pikirku.

Mataku berhenti mencari saat menemukan link blog yang terpajang di halaman itu. Disebutin di sana, kalo kepengen menikmati lagu band itu, bisa ke blognya lebih dulu. Tanpa berlama-lama, aku pun mengklik link http://soundriseband.wordpress.com.

Tampilan blognya sederhana sekali. Ada foto lima personil di header blognya. Semuanya cowok. Kucari-cari link download lagu. Ketemu. Baru ada satu lagu yang terpampang beserta link unduhnya. Berjudul “Tak Kan Kembali”. Sebuah judul yang menggerakkanku untuk mengunduhnya.

Koneksi warnet cepat sore itu. Aku gak perlu nunggu lama untuk mengunduh lagu yang besarnya sekitar 4 Mb itu. Begitu proses selesai, kulihat jam di monitor warnet. Waktu ngenet kurasa udah cukup, saatnya pulang. Kubayar tarif ngenetku dengan uang pas. Lalu kuambil sepedaku, siap mengayuhnya. Gak ketinggalan, kupasang mp3 player di telingaku. Eksis mendengar musik setiap saat.

Gak lama aku sampai di rumah. Kembali kuingat SMS yang dikirim Dita kemarin. Seenaknya saja dia memutuskan hubungan kami secara sepihak. Tanpa ku tahu apa kesalahanku. Tanpa dia mau menjelaskan apa yang perlu untukku perbaiki.

Aku dan Dita resmi pacaran sejak 4 bulan lalu. Aku mencoba memberi yang terbaik untuknya. Aku mencoba berusaha membuat dia nyaman. Semua itu kulakukan agar dia merasakan begitu besarnya perasaan sayangku padanya. Tapi entah kenapa selama 4 bulan, aku merasa gak dianggap olehnya. Perjuanganku untuk membuatnya nyaman sama sekali gak diakuinya. Bebas saja dia melengang pergi melepaskan ikatan yang awalnya telah kami sepakati. Sakit hati ini.

Kucoba lupakan apa yang sudah terjadi dengan menikmati musik. Alunan nada mayor ke minor ataupun sebaliknya yang diramu secara tepat oleh sang musisi membuatku merasa nyaman. Segala tema ada di sana, tinggal memilih ingin memutar lagu yang mana. Hingga koleksi CD berbagai artis ternama berjejer rapi di rak, tepat di sebelah buku sekolah. Lagu-lagu itu bergantian menemaniku belajar bersama buku-buku sekolahku.

Aku menikmati hiburan musik melalui mp3 player. Dia telah menjadi kawan setiaku. Sejak kehadirannya setahun yang lalu, hampir tiap hari aku mendengarkan lagu melaluinya. Pemutar musikku itu membuatku mudah menikmati musik dimana pun dan kapan pun aku ingin. Di saat bahagia maupun sedih. Iya, sedih seperti saat ini.

Pemutar musik itu aku beli ketika aku merasa ketagihan untuk mendengarkan musik dimana saja. Karna gak mungkin aku membawa speaker aktif berukuran besar kemana-mana. Dari mulai dalam perjalanan menuju ke sekolah, hingga siap untuk terlelap, mp3 player selalu ada di dekatku. Begitu juga ketika aku ngapel ke rumah Dita. Ah, tapi itu masa lalu.

[bersambung..]

Selengkapnya baca aja di buku Sahabat part 2. Informasi di sini.

One Comment

Leave a Comment
  1. RiMuTho / Dec 1 2011 10:48 am

    “Alunan nada mayor ke minor”

    memang bunyinya bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: