Skip to content

Aku dan Mereka

Aku gak ngerti apa maunya mereka. Apa yang aku lakuin selalu dianggap sebuah noda. Selalu dijelek-jelekin. Sedangkan aku merasa, aku sama sekali gak bikin salah dengan mereka. Aku gak pernah mencela apa yang mereka kenakan, apa yang mereka pakai atau apa yang mereka perbuat. Memang, aku tergolong anak dari keluarga yang terlalu biasa. Bapakku yang hanya seorang satpam dan ibuku yang seorang penjual gado-gado. Gak adil rasanya buatku.

Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku sekarang berada di luar negeri sana, mencari sesuap nasi. Laila namanya. Ketika nonton berita tentang penyiksaan TKW di televisi, yang kurasain hanya merinding. Aku berharap, kakakku selalu baik-baik saja. Amin.

Rumahku pun gak segede dan sebagus punya mereka. Tapi dengan ukuran rumah yang kecil, aku sekeluarga lebih mudah dan cepat untuk membersihkannya. Perabotan di rumahku ala kadarnya dan memang bener-bener dipake, bukan sekedar hiasan dinding atau almari saja. Saling bahu-membahu menjaga dan merawat rumah adalah prinsip utama keluargaku.

Perlu diingat kalo pendidikan dalam keluargaku adalah nomor satu. Hingga akhirnya saat ini aku berada di salah satu sekolah menengah atas favorit di kota ini, Semarang. Jerih payah kedua orangtua dan kakak membuat aku bisa menikmati pendidikan yang mereka bilang pantas untuk aku. “Potensimu gede, dik. Nanti kakak usahakan biar kamu bisa sekolah di SMA favorit.”, begitu kata kakakku saat akan berangkat ke luar negeri. Bapak pun pernah berkata, “kamu itu dilahirkan untuk menjadi pemimpin, Nak. Jangan sia-siakan waktumu. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jangan lupa diamalkan dan dibagi ke orang lain biar berkah.”

Di saat aku merasa capek ketika belajar, ibu tidak henti-hentinya menyemangatiku. “Nak, untuk membuat sebuah gado-gado itu gak langsung jadi lho. Butuh proses. Mulai dari belanja sampai akhirnya disajikan dalam bentuk gado-gado utuh dan siap untuk dinikmati. Begitu juga dengan belajar, Nak. Kamu bisa sukses kelak kalo sekarang mau berusaha dulu. Mau bersusah payah dahulu.”

Kadang aku merasa nasehat seperti itu hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Memang kadang aku menjadi seorang yang bandel dan malas. Namun, di lain waktu nasehat seperti itu akan terngiang di telingaku. Di saat mereka mengejekku, meremehkan keberadaanku dari sisi ekonomi.

Mereka, teman-teman sekolahku. Yang setiap hari menuntut ilmu yang sama, dengan seragam yang sama dan tentunya di sekolah yang sama pula. Gak ada perbedaan mencolok ketika kami berada di dalam kelas. Aku duduk di bangku, mereka juga. Aku memperhatikan pelajaran, mereka juga. Semua sama.

Ketika bel istirahat berbunyi, aku dan teman-teman akan memanfaatkannya. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, sedangkan teman-temanku lebih asik ngumpul di kantin atau memainkan ponsel mereka, berlomba-lomba saling update status Facebook maupun Twitter dan bertukar komentar. Di sinilah perbedaan itu mulai terlihat.

Mereka asik ngumpul dan ngobrol tentang barang terbaru yang mereka punya. Mereka mengikuti trend pakaian artis yang mereka gemari. Sedangkan aku, sama sekali gak mood untuk membicarakan hal-hal itu.

Aku akui, aku juga butuh makan di kantin, tapi hanya sekedarnya berada di sana. Aku gak mau terlena untuk berlama-lama membuang waktu yang seharusnya bisa kugunakan untuk mengobati rasa haus ilmu yang aku rasakan. Aku mengenyangkan perut untuk memfasilitasi ritual “makan” ilmu.

[bersambung..]

Gimana kelanjutannya?

Baca selengkapnya di buku Sahabat part 1. Informasi di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: