Skip to content
March 18, 2013 / kimsanada

Keliling Nyari Sumbangan

Pernah menjumpai fenomena orang minta sumbangan ke rumah-rumah? Door to Door gitu, pernah?

Biasanya cowok, pake baju koko dan berpeci.

Pernah liat nggak?

Jujur, saya udah sering melihat hal seperti itu. Ada yang minta sumbangan dengan mengatasnamakan pondok pesantren, ada yang mengatasnamakan yayasan yatim piatu, bla bla bla..

Mohon maaf, mereka yang ngider (keliling) memintai sumbangan itu kok kurang pas ya.. Mereka seperti maaf, mengemis sumbangan. Hal ini lepas dari apakah mereka beneran minta sumbangan untuk kepentingan pondok / yayasan yang mereka sodorkan ketika bertemu calon donatur, ataukah hanya akal-akalan mereka saja untuk kepentingan perut mereka.

Yuk coba berpikir positif saja. Coba kita berpikir bareng-bareng. Katakanlah ada si Fulan mengaku dari pondok X, minta sumbangan buat mbangun masjid gede di lingkungan pondoknya.

Saya mencoba menelaah kalo ajaran Islam itu menitikberatkan pada poin “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Itu artinya, Islam menyodorkan ajaran memberi itu lebih mulia daripada menerima.

Meminta sumbangan berkeliling seperti fenomena yang saya paparkan, itu kok berkebalikan dengan hal tersebut ya.. Iya nggak? Apa saya yang salah mengartikannya? Kalo dirasa saya melenceng, silahkan hentikan aktifitas membaca artikel ini. Udah,cukup sampai di sini saja.

Kalo boleh memberi solusi dari pihak-pihak kayak gitu yang pengen dapet donasi untuk kepentingan yang dirasa baik, pakai cara yang produktif saja. Bukankah, kalo mengaku dari pondok pesantren, tentu ada santri-santri yang udah cukup umur dalam arti udah usia kerja. Sekalipun belum, pengelolanya kan pasti bukan seusia santri-santrinya, jadi bisa dong berbuat sesuatu yang produktif..

Daripada waktu yang ada digunakan untuk berkeliling mencari donasi, apalagi ke tempat yang juauhnya kebangetan, mending digunain buat bikin usaha mandiri. Bikin roti kek, bikin minuman dingin kek, terus dijual..

Teori sih gampang, Mas.. Prakteknya gimana?

Dimana-mana teori itu lebih mudah daripada praktek. :p

Tinggal orangnya aja, MAU apa ENGGAK untuk berikhtiar. Untuk berusaha mandiri. Menghasilkan sesuatu sendiri. Itu jauh lebih mulia daripada berkeliling meminta-minta.

Keputusan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif akan mengasah mental yang positif. Membuat mental terbiasa aktif produktif, bukan pasif meminta-minta.

Akhir kata, bila memang benar ada pihak-pihak yang berhubungan dengan yayasan panti atau pondok pesantren yang mendelegasikan orang mereka berkeliling mencari sumbangan, menurut saya itu sebuah hal yang sangat kurang tepat. Ikhtiar ya ikhtiar, tapi yang produktif. Itu lebih mendidik.

Itu menurut saya. Menurutmu?😉

3 Comments

Leave a Comment
  1. Abdi suhamdi / Mar 19 2013 6:45 am

    Betul… di tempat saya ada tu orangnya sering kali bolak-balik minta sumbangan… katanya bangun masjid/pesantren yg gak pernah selesai… herannya mereka selalu mengaku dari daerah yg jauh…

    • Nur Rohim Anakragilemboksalbiah / May 10 2013 9:06 pm

      podo mas dasare aku yo pelit..wes ra kenal yang minta sumbangan lagi ngakunya jauh emang.itu yang ga beres,jadi alasan saya menolak kalo ada seperti itu saya tanyakan ada izin dari kepala desa nggakalo ngga saya ga bisa kasisih maaf kira2 salah ga ya saya

  2. saa / Mar 24 2013 1:14 pm

    barusan aja ada yang dateng, bagusnya suruh aja dia tunjukkin surat sumbangan dari rt/rw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: