Skip to content
December 1, 2011 / kimsanada

Kamu Nggak Inget?

Sebulan yang lalu sih asik-asik aja habis jadian sama Wina. Dia cantik, langsing, tipe idaman setiap anak cowoklah di sekolah ini. Anak pengusaha kaya pula. Tajir abis. Pantaslah kalo banyak yang ngebet pengen jadi cowoknya.

Aku, jadi cowok paling beruntung di antara semua cowok lain di sekolah ini. Tanpa ku sangka Wina nembak aku. Dia memohonku untuk jadi cowoknya. Ah, menyenangkan. Aku tanpa perlu bersusah payah ngebawain bunga atau segala macem tetek bengeknya buat memenangkan hati Wina. Sekalipun sejak awal melihatnya, aku sudah menyimpan perasaan berlebih. Tapi yah, aku sadar diri kok.

Kalo nginget waktu itu, aku berasa menjadi pemenang tanpa perlu berkompetisi. Dalam hati aku menertawai bermacam perilaku kawan-kawanku demi mendapatkan Wina. Usaha mereka telah gagal total. Pupus semua. Hahaha.

Balik lagi ke waktu sebulan lalu, saat Wina nyatain keinginannya jadi cewekku. Entah apa alasan sebenarnya Wina milih aku. Apa karena tubuh tinggi besarku gara-gara aku penggila olahraga ini? Apa karena kulit semi putih dengan model rambutku yang mirip model rambut Darius Sinatrya? Atau hal lain? Aku nggak mau tahu, yang pasti saat itu aku malah diam sesaat mencari tahu, mimpi apa aku di malam sebelumnya. Sampai dapet kejutan tak terduga seperti itu.

Aku belum menjawab sepatah kata pun. Lalu dengan senyum manis, Wina mengulang permintaannya. Ku jawab, “Iya. Aku pun mau jadi cowokmu.”. Begitulah, resmilah kami berdua. Dunia terlihat indah. Bawaannya pengen senyum mulu.

Aku tahu siapa dia. Dia tahu siapa aku. Komitmen pun udah kita bikin. Tinggal menjalani hari-hari penuh kebahagiaan aja. Itulah yang terpikir dalam benakku, sampai akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang salah.

Ada SMS dari Wina. Ku baca males-malesan. Bukan karena handphone jadul ini, tapi karena sesuatu yang salah tadi.

Kamu di mana sih? Ngapain aja? Kok belum nelpon aku?

Menelpon Wina menjadi aktifitas rutinku tiap hari. Tiap malam. Itu diwajibkan Wina padaku. Dia suka ngambek nggak jelas kalau aku melewatkan rutinitas itu.

Lalu ku taruh handphone jadul itu di meja belajarku, tanpa mengetik satu huruf pun untuk Wina. Bukan, bukan karena tak ada mood.

Yaaang.. Lagi ngapain sih kamu? Nggak bales-bales smsku.😦

Ku taruh lagi handphoneku seperti tadi.

Ku lihat, jam sembilan lebih sedikit. Bapakku baru saja pulang, baru saja masuk ke dalam rumah. Bergegas aku menghampirinya. Membantu bapakku.

Begitu kembali ke kamar, langsung ngecek handphone. Ada dua panggilan tak terjawab. Dari Wina. Lalu muncul panggilan ketiga.

“Halo, Yang..”

“Kemana aja, sih? SMS nggak dibales, ditelponin nggak diangkat-angkat, ih!”

“Maaf, Sayang.. Aku baru bantuin bapak.”

“Kemana aja, sih tadi? Habis pulang sekolah, nggak SMS sama sekali. Nelpon juga belum. Kebangetan! Huh!”

“Maaf, Sayang.. Maaf banget, ya..”

“Nggak mau! Kamu udah kebangetan. Ini yang ketiga kalinya kamu kayak gini. Kemarin-kemarin aku biarin aja, tapi malah kamu ulangi!”

“Aduh.. Emang posisinya sulit, Yang..”

“Jahat!”

“Hmm.. Tolong dong, ngertiin aku..”

“Kamu yang nggak ngertiin aku, tau nggak?!”

“Perlu kamu tau ya, makin lama aku makin nggak betah pacaran sama kamu.”

“Kok bisa?!!”

“Aku nggak bisa kalo harus nelponin kamu tiap malem.”

“Egois!!!”

“Tolong dong, dengerin aku ngomong dulu..”

“Tau, ah. Tinggal ngomong aja susah! Aku udah kesel sama kamu!”

“Apa kamu nggak ingat sama komitmen kita sebulan yang lalu?”

Wina diam. Entah dia masih mendengar suaraku atau nggak, aku nggak peduli. Ku lanjutin omonganku.

“Kamu sendiri yang memintaku menjadi cowokmu. Aku yang nerima kamu karena aku juga suka sama kamu, dan kita udah ngebicarain komitmen buat barengan. Kita juga udah sepakat, kan?”

Wina masih diam.

“..dan sepertinya kamu lupa isi komitmen itu. Kamu lupa siapa aku. Aku hanya anak seorang penjual nasi goreng..”

Wina masih juga tak bersuara. Telepon masih nyambung, tetap tanpa reaksi apapun dari Wina.

“Aku nggak mau lagi nilep duit hasil jualan nasi goreng bapak, yang.. Kasihan bapak..”

Hening. Sama sekali tak ada respon dari Wina.

– – –

P.S: 
Cerpen ini untuk ngelunasin utang #NovemberMenulisBlog edisi 26 November 2011, bertema: telpon.🙂

5 Comments

Leave a Comment
  1. maminx / Dec 1 2011 1:15 pm

    idihh ceritanya udahan nih..seru ceritanya lanjutkan donk. eh ini apa diambil dari kisah nyata?
    kasian kalau jadi cowoknya wina. apa apa dipantau dan harus laporan. kayak penjahat aja harus laporan ke polisi😀

  2. shodiq / Dec 6 2011 11:28 am

    waaaah…kok cpet banget selesainya…
    itulah susahnya jadi cowok zaman sekarang, yang selalu dijajah sama ceweknya…
    hahahaa…

  3. Desita Hanafiah / Dec 9 2011 11:54 am

    Keren….
    heuheu itu wina tipe cewek yang seneng diperhatiakan tiap menit🙂

    • kimsanada / Dec 12 2011 4:34 pm

      Betul sekali.
      Kalo Desita tipe cewek yang seperti apa?:mrgreen:

Trackbacks

  1. Butuh Kritik dan Saran nih, Gan.. « Kimsanada's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: