Skip to content
November 29, 2011 / kimsanada

MoodBoosterku itu Kamu

Kubaca untuk kesekian kalinya SMS kiriman Disna.

Helmi udah minum obat, kan? Harus nurut ya, apa kata dokter sama suster.. Lusa Disna jenguk Helmi kok..🙂

Ya. Dia, Disna, cewek yang lagi ku tunggu-tunggu. Udah seminggu ini aku di rumah sakit. Udah seminggu pula aku nggak liat Disna. Kangen? Iya.

Baru tiga hari jadian, aku langsung diserang tipes. Badan lemes banget, kepala pusing nggak karuan. Akibatnya, komunikasi dengan Disna hanya bisa ku lakukan lewat hape. Telpon sekedarnya, selebihnya SMS.

Empat hari setelah aku di sini, Disna fokus mendalami Bahasa Inggris. Tiga hari berikutnya dia ikut lomba debat Bahasa Inggris di sebuah kampus negeri di Semarang. Timing-nya tepat banget. Di saat aku butuh moodbooster untuk kesembuhanku, dia malah harus ikutan lomba.

Jujur, aku memang bangga bisa punya cewek pinter kayak dia, sampai-sampai kalo ada lomba, dia pasti ditunjuk guru untuk mewakili sekolah. Tapi, sekarang aku pun butuh dia untuk mempercepat kesembuhanku. Seminggu ini di rumah sakit membuat moodku makin sakit. Dunia rasanya sempit. Nggak bebas ngapa-ngapain, tenaga juga lagi habis gini. Sangat nggak asik.

Emang Disna besok nggak bisa ke sini?

Ku nanti-nanti SMS balesan Disna. Semenit, dua menit hingga sepuluh menit rasanya lama nggak ketulungan. Bukan hanya karena aku kangen Disna, tapi ada hal lain hingga aku berharap banget dia bisa ada di sampingku besok. Aku cemas jika besok dia nggak bisa ke sini.

Hapeku berdering. SMS masuk. Aha, Disna membalas SMSku.

Maaf, Mi.. Disna bisanya lusa. Maaf banget ya.. Tahan sehari lagi ya kangennya..😉

Ku balas langsung.

Yaaah.. Ya udah nggak papa. Yang penting Disna lusa bisa ke sini, ya.🙂

Seenggaknya, kabar dari dia kemarin sedikit bisa nyenengin aku. Dia berhasil nembus juara dua. Aku bangga padanya.

= = =

Esoknya, tepat hari minggu. Aku bangun agak siangan. Jam enam lebih sedikit. Ku baca ada SMS, ayah dan ibu bakal pulang dari Jakarta besok sore. Begitulah mereka. Orangtuaku disibukkan dengan kegiatan bareng, hingga saat anaknya sakit pun tetap tega ninggal sendiri di sini.

Ku lihat, tirai udah nggak nutupin jendela. Pandanganku bisa bebas menembus jendela. Ada beberapa anak sedang bermain bola. Mereka kelihatan riang. Beda banget dengan yang saat ini ku rasakan.

Terdengar suara pintu dibuka. Seorang perawat masuk membawa sarapan. Seperti tujuh hari yang lalu. Tapi sarapan pagi ini kayaknya berbeda.

“Suster, kok tutupnya gede banget?”

“Iya, Mas. Menunya beda. Mau dimakan sekarang atau nanti?”

“Nanti aja deh, Sus. Taruh di meja dulu aja..”

Males rasanya sepagi ini udah dikasih makanan. Nggak terbiasa makan pagi. Tapi, aku jadi inget SMS Disna kemarin. Okelah, makan pagi aku jabanin.

Suster tadi udah keluar kamar. Tinggal aku sendirian. Ku ambil sarapan pagi dari meja di sebelah kiriku. Masih dengan penutup gedenya. Ku taruh barengan dengan meja kecil di atas perutku.

“Hak!!!”

Secara refleks, pandanganku tertuju pada jendela. Kayak ada bayangan hitam di luar jendela kamarku. Tapi ternyata nggak ada sama sekali. Masih tetap ada pemandangan anak kecil yang bermain bola tadi.

Huff.. Nggak ada apa-apa.. Yang penting makan dulu aja ah..

Ku buka perlahan penutup makananku.

“Hey! Siapa itu??!!!”

Aku keceplosan berteriak. Aku merasa melihat lagi bayangan hitam di luar jendela, tapi seakan hilang tak berbekas begitu aku memandangi jendela.

“Hah.. Hah.. Hah..”, nafasku memburu. Situasi pagi ini bikin jantung senam pagi.

Terdengar suara pintu dibuka. Sedetik, dua detik, tiga detik, nggak ada satu pun orang yang muncul dari pintu.

“Siapa?”

Suasana hening.

“Hei, siapa di situ?”

Suasana masih hening.

“Hei! Jangan becanda!!”

Deg-deg-deg-deg-deg. Jantungku berdegup kencang berulang. Situasinya nggak asik.

Tilulit-tuliiiit.. Tilulit-tuliiiit..

“Waaaa..!!!”

Ternyata hapeku berdering. Ngagetin aja.

Disna memanggil.

Klik!

“Halo, Dis..”

Nggak ada suara balasan dari Disna.

“Disna.. Haloooo…”

Lalu aku diam sejenak. Menanti suara Disna.

“Selamat ulang tahun, Sayaaaaang..”

Disna masuk dari pintu yang terbuka tadi.

Aku bengong. Belum ngeh sama keadaan.

Disna masih megangin hape yang ditempelin di telinganya. Dia berada tepat di depanku. Aku masih bengong ngeliatin dia.

“Selamat ulang tahun, Sayaaang..”, Disna mengulang ucapannya tadi.

“Eh? Iyaaa..”, pikiranku udah konek sama situasi.

“Makasih, Sayang.. Udah nyempetin dateng.. Bikin kaget aja.. Hehehe..”, mukaku memerah.

Dari belakang Disna muncul tiga orang, salah satunya berjubah hitam.

WAAAAA?!!!”, aku refleks berteriak.

“Ssssttt!!!!”, Disna dan ketiga orang tadi kompakan ngasih tanda diem ke aku.

“Ini aku, Roni..”

“Sial.. Ngagetin aja, ah..”

“Hahaha.. Salah sendiri, jadi penakut, Mi.”. Fajar dan Ami ikutan ketawa kecil.

Yak. Disna sekarang beneran udah ada di sampingku. Lewat sebuah kejutan horor pagi-pagi.

“Buka dong, makananmu..”, pinta Disna.

“Ealah, ini kue ulang tahun ternyata.. Hahaha..”, respon ketika aku membuka penutup makananku.

Disna nyalain lilin di atas kue. “Ayo, make a wish, Sayang..”, Disna tersenyum padaku.

“Makasih ya semuanya..”, moodku terisi penuh di level very happy.

Adem hatiku. Hari ulang tahunku sempurna, ada Disna di sampingku.

– – –

P.S: 
Cerpen ini untuk ngelunasin utang #NovemberMenulisBlog edisi 22 November 2011, bertema: moodbooster. 🙂

3 Comments

Leave a Comment
  1. ilcharama ilyas (@ilcharama) / Nov 29 2011 2:35 pm

    Aplause untuk cerita ini,
    G ketebak sebelum babak akhir

    • kimsanada / Dec 6 2011 12:12 pm

      Mohon tetep nyumbangin saran dan kritik, pep..🙂

Trackbacks

  1. Butuh Kritik dan Saran nih, Gan.. « Kimsanada's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: