Skip to content
September 24, 2011 / kimsanada

Keluar Masuk itu Nggak Enak..

Bayangkan jika seandainya kita punya sebuah grup akustik. Seorang vokalis dan seorang gitaris. Suatu ketika kita diundang untuk ngeramein sebuah event kecil. Sebuah gitar yang jadi senjata andalan udah kita siapin, begitupun dengan sebuah microphone wireless. Persiapan dari kita udah lengkap. Tinggal gladi bersih aja di lokasi.

Oke, ini bukan sekedar bayangan, tapi kenyataan. Hal nyata yang udah aku dan kawanku alami.🙂

Berangkatlah aku dan kawanku ke lokasi. Sesampai di sana, panitia event tersebut menyambut kami. Salah satu panitia mempersilahkan kami untuk melakukan cek sound. Oke, bersegeralah kami melakukannya.

Ajaibnya, tidak ada satupun panitia yang ngebantu kami untuk cek sound. Ya sudah, tak apalah. Hanya seorang -katakanlah dia seorang OB- yang membantu kami, bukan panitia event tersebut.

Menit demi menit berlalu, pengaturan sound udah dirasa optimal. Mulailah kami melakukan gladi bersih. Total durasi keseluruhan mencapai kurang lebih dua jam, sob! Berhubung kami belum puas dengan settingan yang ada, besoknya mesti gladi bersih lagi. Besok sebelum eventnya mulai.

Hari berganti. Jam tujuh pagi kami udah di lokasi lagi. Ngurus gladi bersih sebersih-bersihnya, tanpa bantuan panitia (lagi). Setengah jam kemudian, kita ngerampungin sesi itu. Tinggal nunggu sesi perform yang sebenarnya aja.

Sekitar tiga jam empat puluh lima menit kemudian, kita udah berada di depan audiens. Entah kenapa suara gitarnya jadi lebih cempreng padahal settingan masih sama kayak saat cek sound. Entah kenapa pula microphone wireless yang udah disiapin jadi mati-idup. Aneh, tapi show harus berlangsung.

Satu lagu dengan sukses kita bawain pake mic kabel. Masuk ke lagu kedua. Dengan berusaha senyaman mungkin dengan kondisi saat itu, tiba-tiba suara gitarku hilang lalu muncul lagi. Secara refleks, ku tengok tuh ke sumber suara. Ternyata ada seorang panitia yang sedang jongkok di sana. Pikirku, paling si panitia tadi nggak sengaja tersandung kabel gitar. Okelah, never mind.

Tapi eh tapi, usai kejadian itu keluaran suara gitar jadi nggak asik lagi untuk didenger. Lagi-lagi muncul hilang nggak karuan. Ku lihat lagi ke sumber suara, beberapa panitia sibuk berusaha membereskan masalah itu. Nahas, hingga lagu ketiga selesai didendangkan, suara gitarku masih juga muncul dan hilang. Kenikmatan yang ku dapat hampir mencapai skala nol, bahkan jika diukur beneran bisa jadi udah minus. Lalu selesailah tugasku dan kawanku untuk menghibur di acara itu.

Kalo bener si panitia tadi hanya tersandung kabel, sih oke-oke aja. Namanya juga nggak sengaja, aku masih toleranlah. Tapi setelah nanya ke panitia yang ketahuan jongkok tadi, ternyata begini..

Aku: “Tadi kamu kesandung kabel?”

Panitia Jongkok: “Enggak, Mas.. Tadi kabelnya saya pindah, karena disuruh sama X.”

Aku: “Kok bisa?”

Panitia Jongkok: “Katanya suara gitar kurang keras.”

Aku: “Walah.. Sia-sia dong cek sound kita kemarin.”

Panitia Jongkok: “Hahahaha…”

Lalu terbersit beberapa pertanyaan di pikiranku.

Kok bisa ya si panitia malah ngetawain apa yang udah aku dan kawanku usahain buat lancarnya acara?

Kok bisa si panitia tadi dengan sopannya ngotak-atik kabel gitar selama show masih berlangsung?

Nah, berani nggak ya dia ngelakuin hal yang sama di saat Linkin Park masih mainin sebuah lagu di stadion GBK kemarin? Duh, nggak kebayang deh, apa yang bakal dia dapet di event segede itu.

Si panitia jongkok tadi berdalih jika apa yang dilakukannya itu atas dasar menuruti perintah X. Memang, X berposisi lebih tinggi dari si panitia jongkok tadi, tapi X kan nggak ikutan ngatur sound di hari sebelumnya. Apakah sebuah hal yang bijak jika nurutin perintahnya? Usaha ngatur sound yang nggak sebentar, harus pupus dan berantakan hanya karena sedikit perubahan settingan. Peribahasanya udah ada, kan? Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Suara yang keluar masuk itu nggak enak untuk didengar. Ini sebagai pembelajaran aja buat siapapun yang akan berposisi sebagai panitia suatu event, atau sebagai pengisinya. Hal ini tentang bagaimana panitia bisa melayani persiapan sang pengisi dengan baik. Hal ini juga tentang bagaimana sang pengisi perlu menyiapkan suatu aturan tertentu sesuai kebutuhan agar sesinya nggak kacau balau. Bahkan mungkin, bukan hanya panitia tertentu saja yang tau, tapi semua panitia pun perlu ngerti. Lalu, komunikasi yang baik antara keduanya sangat perlu dihadirkan. Pelengkapnya, sebuah ketegasan akan mempermanis keseluruhannya. Semoga nggak ada lagi kejadian serupa.

Ngutip sebuah tagline iklan: nggak ada noda, nggak belajar. Makasih untuk semua yang terlibat, kita telah belajar bareng untuk sesuatu yang lebih baik.🙂

3 Comments

Leave a Comment
  1. ilcharama ilyas (@ilcharama) / Sep 24 2011 12:17 pm

    hehehe…
    g naroh potomu sekalian nda?
    sayang waktu itu g ada yang pas kamu lagi clingukan😀😀😀

    • kimsanada / Sep 28 2011 4:30 pm

      Duuuh..
      Sayang sekali ya pep..
      Seandainya ada..😆

  2. Retno / Sep 24 2011 10:08 pm

    Semangat yaaaa….. Semua kejadian ada hikmahnya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: