Skip to content
June 30, 2011 / kimsanada

The Legend of Cicak and Kecoa

Selamat pagi, siang, sore dan malam!😀

Nggak pake cong-cong, udah pada tahu kan yang namanya fabel?😉

Kali ini aku mau bagi-bagi cerita semacam itu di sini. Hasil karya antara pengamatan dengan fantasi. Agak-agak norak sih, tapi nafsu nerbitin tulisan di sini udah nggak bisa dibendung lagi.:mrgreen:

Inilah kisahnya..

* * *

Jadi, ada cicak di kamar mandi kosanku. Sebut saja Cici. Mengenai cewek atau cowok, aku belum sempat menanyakannya. Pagi itu dia sedang berburu sarapan. Saking lapernya, dia bahkan lupa untuk berpakaian. Kok nggak malu sama aku ya?

Dengan sangat kasian, dia berburu makan sendirian. Agak-agak melamun, dia nongkrong di deket gantungan pakaian. Berharap makanan datang kepadanya. Kesan sebenarnya yang ku tangkep, dia itu kepengen soto ayam, sama kayak aku, tapi sayangnya si tukang soto nggak lewat kamar mandi. Tukang soto hanya lewat depan kosanku. Naas buat si Cici. Tapi dia sama sekali nggak menggerutu karenanya. Hebat. Aku salut.

Nggak lama kemudian muncullah anak kecoa. Kusebut dia: Keco. Dia juga kelaparan, sama kayak Cici. Keco berlarian di tembok kamar mandi, secara random. “Mamaaa.. Aku laperrr..”, begitu teriak si Keco.

Sepasang mata yang nggak mirip bola pingpong mengamati Keco dari jarak yang lumayan deket. Pemilik sepasang mata itu diam nggak bergeming sedikit pun. Menegurlah dia kepada si Keco.

“Hoi, jangan berisik lo!”

Keco tetap saja berlarian bolak-balik di hadapan pemilik mata yang nggak mirip bola pingpong tadi. “Mamaaaa.. Lapar, Maaaa… Aku lapaaarrrr..”

“Wooooi! Gue bilang, jangan berisik!!!!”

Keco ngerem larinya. Berhenti mendadak. Untung nggak jatuh dari tembok. Sekali jatuh bisa langsung masuk lubang kloset, karena tepat sekali lokasinya di atas kloset.

“Situ manggil saya, Om?”, Keco bertanya pada sumber suara tadi.

“Iye! Siapa lagi kalo bukan elo yang lari-lari sambil teriak nggak jelas!”

“Emang kenapa sih, Om?”

“Kuping gue sakit, tau!”

“Ooohhh.. Sori deh, Om..”

“Am, Om, Am, Om.. Gue belum setua itu, tau!”

“Yaaaah, marah-marah mulu ni ah. Nggak baik tau buat kesehatan, Om..”

“Emang kapan gue kawin sama tante Lo???”

“Aku nggak punya tante loh, Om..”

“Aduuuh.. Ya sudahlah, susah ngomong sama anak kecil. Huh!”

“Ya udin, nggak usah ngomong lagi dong sama aku, Om. Ngapain repot sendiri..”

Sabar Ci.. Sabar.. Ngadepin anak kecil mesti sabar lahir batin. Harus lahir batin, walopun belum Idul Fitri, nurani Cici berusaha mendinginkan dirinya.

“Eh, lo beneran kelaperan, boy?”

“Iya nih, Om. Laper tingkat dewa. Mama sama Papa udah pergi dines ke luar kota tanpa ninggalin makanan sama sekali. Teganya mereka..”

“Hmm.. Kasian lo, boy. Lo mau makanan enak nggak?”

“Om punya?”, mata Keco berbinar. Ngalahin lampu 5 watt.

“Kalo lo mau, ke sini dulu..”

“Beneran, Om?”, rasa bahagia mulai melanda Keco.

“Ya beneran, masak gue bohong. Yang butuh kan elo, jadi ke sini dululah..”

“Asyiiik.. Oke, Om. Aku ke situ..”

Keco dengan riang gembira mendekat ke tempat Cici. Duka nestapa langsung sirna begitu membayangkan makanan enak yang ditawarkan Cici kepadanya. Laziiissss.

Sekarang posisi Keco dan Cici udah 1 on 1. Saling berhadapan. Jarak mereka cuma sejengkal kaki cicak.

Dengan senyum terkembang, Keco berucap, “Mana makanan enaknya, Om?”

“Tutup dulu mata elo, boy..”, pinta Cici.

“Oke, Om. Aku suka kejutan..”

Ditutupnya kedua mata Keco. Berharap makanan uenak khas Bondan Winarno.

“Ini dia, makanan enaknya, boy..”, Cici tersenyum horor.

Hap!

Cici memangsa Keco.

“Aaaaaaa.. Aaaaaaaa..”

Keco tak berdaya di mulut Cici. Dia melemas perlahan. “Kamulah makanan enaknya, tapi…, buat aku. Hahahaa..”

Sekali kunyah, si Keco langung menerobos tenggorokan Cici. Dia masih sangat muda, tapi harus menjadi mangsa Cici. Rest In Peace ya, Co.

Cici puas bukan kepalang. Pagi itu nggak harus nunggu lama, ternyata perut udah kenyang aja. Sungguh kejadian yang tak terduga. Anda nggak menduga, begitu pun aku. Nggak nyangka cerita ini bisa selesai sampai di sini.

– fin –

* * *

Itulah sekelumit #ceritacicak. Cerita di atas hasil perkawinan silang dari beberapa twitku.

Semoga kita nggak berada di posisi kayak si Keco yang menjadi santapan Cici. Dunia mereka memang dunia rimba. Rimba modern. Biarlah rantai makanan tetap berlaku sekejam itu di dunia hewan.

Aku harap, rantai sekejam itu nggak lagi berlaku di kehidupan manusia. Meski awalnya bayi mungil tanpa daya, manusia itu makhluk tangguh. Manusia bisa berpikir gimana caranya nyari ‘sesuap nasi’ tanpa harus menyakiti makhluk lain. Hanya manusia mulia, yang mampu bertahan hidup sederhana dengan hal khalal, daripada bergelimang harta tapi haram.

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: