Haruskah Berkonvoi Seperti Itu?

Pagi kemarin aku habis nonton berita di televisi yang sebagian besar diisi oleh kabar dari adik-adik SMA. Apalagi kalo bukan tentang kelulusan dan konvoi. 🙂

Tulisan ini sebenarnya mau diposting kemarin, tapi berhubung koneksi lagi lemot bin lama baru bisa hari ini deh. Inilah konsekuensi pemakai koneksi ala kadarnya. :mrgreen:

* * *

Dulu, waktu kelulusan tahun angkatanku, memang aku ikutan konvoi rame-rame. Sebagian besar temenku pada nyemprotin pilox ke seragam mereka, tapi enggak denganku. Jujur, aku ogah mengotori seragamku sendiri. Entah itu dengan alasan kenang-kenangan kek atau apa. Aku merasa seragamku masih bisa digunakan orang lain. 🙂

Kembali ke tontonan berita yang tadi aku saksikan. Siswa-siswi SMA yang telah dinyatakan lulus segera melakukan konvoi dengan seragam “baru” mereka. Meskipun sekolah sudah melarang mereka berbuat seperti itu, tapi kegiatan itu tetep dilangsungkan. Kayak udah jadi adat wajib aja.

 

ilustrasi – vivanews.com

Kayak yang aku saksiin sendiri kemarin, ada beberapa siswa berseragam corat-coret yang konvoi dengan sepeda motor. Aku liat mereka ugal-ugalan. Bahkan sempat ada yang jatuh dari sepeda motor. Untungnya nggak dalam kecepatan tinggi, bisa tamat kalo gitu. Mereka nggak peduli dengan pengguna jalan yang lain. Aku bisanya ngelus dada doang.

Nah, yang di tayangan berita tadi itu, ada beberapa siswa konvoi yang ditangkap polisi karena ketahuan ugal-ugalan di jalan, bahkan ada yang digeledah ternyata membawa minuman keras. Sungguh aneh untuk dikatakan sebagai siswa. Dididik ilmu pengetahuan setiap hari, diajari sopan-santun orangtua, tapi kok jadinya seperti itu? 🙂

Yang unik ada nih. Di daerah mana, aku lupa, ada siswa yang ngadain konvoi bersepeda dan pake becak! 😀

Tapi sayangnya, mereka masih “melukis” seragam. Sedangkan yang tanpa “lukisan” seragam dan berkonvoi memakai sepeda ada tuh di daerah Jepara. Mereka sadar untuk berkonvoi aman. Asli aku kagum sama mereka. Contoh generasi yang bermental bagus. 🙂

Aku jadi mikir, siapa ya yang dulunya memulai konvoi corat-coret dan bersepeda motor ugal-ugalan? Bukankah bentuk rasa syukur atas kelulusan bisa diwujudkan dengan hal yang positif? Kayak misalnya berdoa bersama, atau keliling kota dengan aman. Ibaratnya kayak anak yang disunat tuh, nggak ada kan yang bajunya disemprot pilox? :mrgreen:

Buat adik-adik yang masih sekolah, saringlah aktifitas yang sekiranya tidak bermanfaat. Tawa dan tangis selama kalian bareng akan menjadi kenang-kenangan untuk masa depan kalian. Segera fokus pada langkah apa yang akan kalian lakukan untuk kehidupan kalian kelak. 🙂

Jadi inget lagunya Bondan & Fade2Black, Kita Untuk Selamanya. 🙂

Advertisements

16 thoughts on “Haruskah Berkonvoi Seperti Itu?

  1. yang konvoi pake becak ma sepeda di kota kita juga bangpep..
    pekalongan.

    kalo masalah coret2an,
    emang jadi mikir juga,siapa yang dulu pertama kali ngelakuin.
    yang jelas saya sendiri dulu g pake coret2an ma konvoi…
    😛

    backsoundnya punya sheila on 7 bangpep,
    sebuah kisah klasik

    • Oiya pep..
      Yang pake sepeda ane liat, tapi seragamnya dicorat-coret pep..

      Yoi banget tuh lagu si SO7, dulu sempet nangis gara-gara muter lagu itu.. 😦

  2. sayang seragam nya. jaman saya dulu, sekolah yang melarang buat konvoi. udah ada polisi yang jaga di depan gerbang biar ga coret2an baju.

  3. Saya juga suka terenyuh tradisi coret2 dan konvoi kok ya masih ada aja. Padahal kalo mereka tau bahwa masa SMA itu masa yg paling indah, mereka bakal bersedih.. <– pengalaman pribadi, hihi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s