Kita Akan Menyusul Mamah..
Seorang anak perempuan berusia 5 tahun bertanya pada ayahnya.
“Pah.. Mamah kemana?”
“Mamah lagi pergi liburan..”
“Kok nggak ngajak aku sih.. Mamah jahat..”
“Mamah nggak jahat, Sayang.. Mamah cuma lagi nyiapin tempat yang indah buat kita di sana.. Biar lebih indah..”
“Oh, gitu ya, Pah.. Tapi kapan kita nyusulnya?”
“Sebentar lagi, Sayang.. Kamu tunggu dulu ya di sini. Papah mau nyiapin kendaraan buat nyusul mamah..”
Si anak perempuan duduk manis di sofa depan televisi. Dipandanginya foto mamah yang sedang dikangeni si gadis kecil itu. Mamahnya memang sudah tujuh hari ini nggak pulang ke rumah.
Sejak mamahnya pergi, gadis kecil itu hampir tiap hari menanyakan hal yang sama pada papah. “Mamah dimana? Mamah dimana? Mamah dimana?”. Gadis kecil itu meluapkan rasa kangennya lewat pertanyaan. Hingga si papah nggak kuat lagi untuk menjawab pertanyaan si gadis kecil.
“Papah..”
“Iya, Sayang..”
“Katanya papah mau nyiapin kendaraan buat nyusul mamah, tapi kok papah malah nuang air di sofa ini?”
“Ini bukan air, Sayang..”
“Terus, ini apa, Pah?”
Bekas tetesan dibaui si gadis. “Baunya aneh, Pah..”
Papah memandangi foto mamah lekat-lekat.
“Aku dan anakmu akan datang menyusulmu..”
Dia merogoh saku celananya. Dia keluarkan sebuah benda, kotak kecil hitam. Dikeluarkannya pula sebatang lidi dari kotak itu. Hanya sekali menggesek lidi itu ke kotak kecil hitam tadi, muncullah api kecil.
“Papah mau merokok?”
“Enggak, Sayang..”, Papah menghela nafas. ”Peluk papah, Sayang.. Kita akan menyusul mamah..”
- – -

:_(
Pingback: Butuh Kritik dan Saran nih, Gan.. « Kimsanada's Blog
Haruskah menyusul dengan cara itu?
Apa tidak ada cara lain untuk memberitahukan si anak dengan apa yang terjadi sebenarnya terhadap Mama?
Saya terharu.
Jadi, ceritanya si papa itu udah frustrasi, sob..
Makanya jalan itulah yang akhirnya dipake.
Yang ku gambarkan memang hanya sepotong sih, jadi kurang jelas banget.
Makasih komentarnya, sob.